Selasa, 13 Oktober 2009

Gambar Konstruksi 3 (I)

Membuat Gambar Terpasang (2025)
1. Pekerjan persiapan
2.
Melakukan survey dan pengukuran fisik bangunan
3.
Menyusun data teknik bangunan
4.
Membuat gambar denah, tampak dan potongan melintang/memanjang bangunan
5.
Membuat gambar denah pondasi, denah atap, denah balok – kolom
6.
Membuat gambar detail struktur
7.
Membuat gambar instalasi utilitas dan mekanikal-elektrikal bangunan yang berhubungan dengan konstruksi baja










Jumat, 09 Oktober 2009

Cetakan Kolom

Slide 48
Cetakan Kolom
l
Papan cetakan
lCetakan kolom bisa terbuat dari papan maupun multipleks. Untuk kolom berpenampang luas, apabila acuannya menggunakan papan maka perlu menyambung papan cetakan tersebut dengan beberapa klam perangkai. Yang perlu diperhatikan adalah kerapatan dari sambungan – sambungan yang dibuat, sehingga air semen tidak keluar melalui celah – celah sambungan.

Slide 49
lKlam perangkai
lKlam perangkai dibuat dengan memanfaatkan sisa / potongan kayu yang tidak terpakai, asalkan panjangnya masih cukup panjang selebar cetakan yang akan disambung dan lebar klam perangkai 10 cm

(bersambung)

l

Senin, 05 Oktober 2009

Cetakan Kolom


Cetakan Kolom


Papan cetakan
Cetakan kolom bisa terbuat dari papan maupun multipleks. Untuk kolom berpenampang luas, apabila acuannya menggunakan papan maka perlu menyambung papan cetakan tersebut dengan beberapa klam perangkai. Yang perlu diperhatikan adalah kerapatan dari sambungan – sambungan yang dibuat, sehingga air semen tidak keluar melalui celah – celah sambungan.

Pemasangan cetakan kolom dilakukan setelah tulangan kolom terpasang di tempatnya dengan bantuan penjaga jarak atau beton deking . Kemudian dilakukan pengecekan ketegakan begisting kolom dengan menggunakan unting – unting atau theodolit. Untuk menstabilkan kedudukan, ketegakan kolom dan kelurusan terhadap kolom yang lain, dipasang skor.



Klam perangkai
Klam perangkai dibuat dengan memanfaatkan sisa / potongan kayu yang tidak terpakai,

asalkan panjangnya masih cukup panjang selebar cetakan yang akan disambung dan lebar klam perangkai 10 cm.


Jarak klam tergantung dari besar kecilnya kolom yang dibuat,

semakin besar kolom yang dibuat, semakin rapat jaraknya, begitu pula sebaliknya.

Biasanya dibuat berkisar antara 40 – 60 cm.



Bagian lebar cetakan = b + ( 2 x ½ d )
Bagian panjang cetakan= l + ( 2 x ½ d )
b = lebar kolom
l = panjang kolom
d = tebal papan


Papan Penjepit Cetakan
Fungsi penjepit ini adalah untuk menahan cetakan agar tidak pecah ketika beton dicor.

Penjepit ini dipasang sesuai dengan jarak klam perangkai yang dibuat.

Panjang penjepi tergantung dari ukuran kolom yang dibuat.


Pada bagian bawah cetakan kolom dibuatkan lubang untuk membersihkan kotoran yang ada di dalam cetakan kolom, dan ditutup saat akan dilakukan pengecoran.



Pemasangan cetakan kolom dilakukan setelah tulangan kolom terpasang di tempatnya dengan bantuan penjaga jarak atau beton deking . Kemudian dilakukan pengecekan ketegakan begisting kolom dengan menggunakan unting – unting atau theodolit.


Untuk menstabilkan kedudukan, ketegakan kolom dan kelurusan terhadap kolom yang lain, dipasang skor.



Langkah kerja



  • Mempelajari gambar kerja dan hitung kebutuhan bahan.


  • Menyiapkan peralatan, bahan dan lokasi kerja yang akan digunakan.


  • Rangkaikan papan – papan sebagai cetakan kolom dengan menggunakan klam perangkai, sesuai dengan ukuran yang tercantum di gambar kerja..


  • Buat papan duga, tentukan letak as kolom.


  • Pasang tulangan beserta penjaga jarak ( tebal selimut beton ) pada tempatnya.


  • Letakkan cetakan pada tempatnya.


  • Dirikan tiang perancah dengan jarak antara tiang perancah adalah lebar kolom ditambah 2 kali 35 cm.


  • Rangkaikan tiang acuan dengan papan gelagar. Jarak gelagar sama dengan jarak klam perangkai, tetapi diukur dari as klam perangkai.


  • Tiang acuan harus tegak


  • Memasang papan penjepit untuk bagian atas dan bawah terlebih dahulu, bagian tengah menyusul setelah cetakan kolom benar – benar telah tegak.


  • Untuk menegakkan kolom dipakai unting – unting.


  • Kedudukan kolom harus benar – benar tegak dan siku / lurus terhadap kedudukan kolom yang lain.


    Merangkai papan dengan klam perangkai


Cetakan Kolom


Papan cetakan
Cetakan kolom bisa terbuat dari papan maupun multipleks. Untuk kolom berpenampang luas, apabila acuannya menggunakan papan maka perlu menyambung papan cetakan tersebut dengan beberapa klam perangkai. Yang perlu diperhatikan adalah kerapatan dari sambungan – sambungan yang dibuat, sehingga air semen tidak keluar melalui celah – celah sambungan.


Pemasangan cetakan kolom dilakukan setelah tulangan kolom terpasang di tempatnya dengan bantuan penjaga jarak atau beton deking . Kemudian dilakukan pengecekan ketegakan begisting kolom dengan menggunakan unting – unting atau theodolit. Untuk menstabilkan kedudukan, ketegakan kolom dan kelurusan terhadap kolom yang lain, dipasang skor.



Klam perangkai
Klam perangkai dibuat dengan memanfaatkan sisa / potongan kayu yang tidak terpakai,

asalkan panjangnya masih cukup panjang selebar cetakan yang akan disambung

dan lebar klam perangkai 10 cm.


Jarak klam tergantung dari besar kecilnya kolom yang dibuat,

semakin besar kolom yang dibuat, semakin rapat jaraknya, begitu pula sebaliknya.

Biasanya dibuat berkisar antara 40 – 60 cm.

Bagian lebar cetakan = b + ( 2 x ½ d )
Bagian panjang cetakan= l + ( 2 x ½ d )
b = lebar kolom
l = panjang kolom
d = tebal papan



Papan Penjepit Cetakan
Fungsi penjepit ini adalah untuk menahan cetakan agar tidak pecah ketika beton dicor. Penjepit ini dipasang sesuai dengan jarak klam perangkai yang dibuat. Panjang penjepi tergantung dari ukuran kolom yang dibuat.


Jumat, 02 Oktober 2009

Akibat Gempa










Apa yang ada dalam pikiran Anda sekarang?

Simpati...

Emphati...

Apa yang ada dalam pikiran Anda untuk masa depan?

Konstruksi bangunan yang standar merupakan bagian dari jaminan dari keamanan.

Bagaimana dengan Anda?

Suramadu












Bangunan Tahan Gempa III

(BAGIAN 3)

3. Dinding Tembok

a.Bangunan sebaiknya tidak dibuat bertingkat

b.Besar lubang pintu dan jendela dibatasi.

c. Jumlah lebar lubang-lubang dalam satu bidang dinding tidak melebihi ½ panjang dinding itu.

d. Letak lubang pintu/jendela tidak terlalu dekat dengan sudut-sudut dinding, misalnya minimum 2 kali tebal dinding.

e. Jarak antara dua lubang sebaiknya tidak kurang dari 2 kali tebal dinding.

f. Ukuran bidang dinding juga dibatasi, misalnya tinggi maksimum 12 kali tebal dinding, dan panjangnya diantara dinding-dinding penyekat tidak melebihi 15 kali tebalnya.


(Gb 7 : Dinding Tembok)

g. Apabila bidang dinding diantara dinding-dinding penyekat lebih besar daripada itu maka dipasang pilaster / tiang tembok.

h. Balok lintel dibuat menerus keliling bangunan dan sekaligus berfungsi sebagai pengaku horizontal. Balok lintel tersebut perlu diikat kuat dengan pilaster

i. Pilaster diperkuat dengan jangkar. Jangkar dapat terdiri dari kawat anyaman ataupun seng tebal yang diberi lubang-lubang paku seperti parutan.







(Gb 8 : Penguat Dinding Tembok)


j. Pada bagian atas dinding dipasang balok pengikat keliling/ring balok. Ring balok dijangkarkan dengan baik kepada pilaster.

k. Pada sudut-sudut pertemuan dinding, hubungan antara balok-balok pengikat keliling (ring balok) perlu dibuat kokoh.



(Gb 9 : Ring Balk dan Penguat Sudut Dinding Tembok)

l. Hubungan antara bidang-bidang dinding pada pertemuan dan sudut-sudut dinding perlu diperkuat dengan jangkar-jangkar. Jangkar dapat berupa seng tebal dengan lubang-lubang bekas paku atau berupa kawat anyaman.

(Gb 10 : Penguat Sudut Dinding Tembok)
Sumber : Pelatihan Bangunan Tahan Gempa, Hotel Shafir Jogjakarta Medio April 2006

Bangunan Tahan Gempa II

(BAGIAN 2)


2. Pondasi :


Bila Pondasi Batu Kali Menerus


a. Sebaiknya tanah dasar pondasi merupakan tanah kering, padat, dan merata kekerasannya. Dasar pondasi sebaiknya lebih dalam dari 45 cm.







(Gb 3 : Pondasi Batu Kali Menerus)

b. Pondasi sebaiknya dibuat menerus keliling bangunan tanpa terputus. Pondasi dinding penyekat juga dibuat menerus. Bila pondasi terdiri dari batukali maka perlu dipasang balok pengikat/sloof sepanjang pondasi tersebut.









(Gb 4 : Pondasi Batu Kali Menerus dan balok Sloof)








Bila Pondasi Setempat


a. Pondasi setempat dan balok perlu diikat kuat satu sama lain dengan memakai jangkar besi. Pengikat dengan jangkar gunakan besi minimal Ø 12 mm







(Gb 5 : Pondasi Batu Setempat dengan Penjangkaran)










Bila Pondasi Setempat Beton Bertulang


a. Bila pondasi bangunan tinggi menggunakan pondasi setempat Beton bertulang





(Gb 6 : Pondasi Setempat Beton Bertulang)


Lihat Bangunan Tahan Gempa III

Bangunan Tahan Gempa II

(BAGIAN 2)

2. Pondasi :

Bila Pondasi Batu Kali Menerus

a. Sebaiknya tanah dasar pondasi merupakan tanah kering, padat, dan merata kekerasannya. Dasar pondasi sebaiknya lebih dalam dari 45 cm.


(Gb 3 : Pondasi Batu Kali Menerus)

b. Pondasi sebaiknya dibuat menerus keliling bangunan tanpa terputus. Pondasi dinding penyekat juga dibuat menerus. Bila pondasi terdiri dari batukali maka perlu dipasang balok pengikat/sloof sepanjang pondasi tersebut.



(Gb 4 : Pondasi Batu Kali Menerus dan balok Sloof)




Bila Pondasi Setempat

a. Pondasi setempat dan balok perlu diikat kuat satu sama lain dengan memakai jangkar besi. Pengikat dengan jangkar gunakan besi minimal Ø 12 mm



(Gb 5 : Pondasi Batu Setempat dengan Penjangkaran)






Bila Pondasi Setempat Beton Bertulang

a. Bila pondasi bangunan tinggi menggunakan pondasi setempat Beton bertulang



(Gb 6 : Pondasi Setempat Beton Bertulang)
Lihat Bangunan Tahan Gempa III
(Sumber : Pelatihan Bangunan Tahan Gempa, Hotel Shafir Jogjakarta medio April 2006)

Bangunan Tahan Gempa I

PERENCANAAN BANGUNAN TAHAN GEMPA SALAH SATU SOLUSI UNTUK MENGURANGI TINGKAT RESIKO KORBAN JIWA DI DALAM BANGUNAN

(BAGIAN 1)


Latar Belakang :
Indonesia memiliki wilayah yang rawan terhadap gempa sehingga perlu perencanaan khusus dalam pembangunan rumah dan gedung bertingkat, yang tahan terhadap bahaya gempa


Permasalahan :
Banyaknya kerusakkan bangunan yang tidak menggunakan perencanaan/perhitungan tahan gempa

Usulan Teknis :
• Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Bangunan Tahan Gempa untuk Rumah Sederhana
• Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Bangunan Tahan Gempa untuk Struktur Bangunan Tinggi

(Gb. 1 : Zona Gempa di Indonesia)


FALSAFAH BANGUNAN TAHAN GEMPA

1. Bila terjadi gempa ringan, bangunan tidak mengalami kerusakan baik pada komponen non-struktural maupun komponen struktural

2. Bila terjadi gempa sedang, bangunan boleh mengalami kerusakan pada komponen non-struktural tetapi komponen struktural tetap utuh

3. Bila terjadi gempa besar, bangunan boleh mengalami kerusakan baik pada komponen non-struktural maupun komponen struktural, akan tetapi tersedia selang waktu bagi evakuasi penghuni bangunan tersebut untuk keluar sebelum bangunan runtuh sebagian atau seluruhnya.


Tata cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung
(Acuan : SNI – 03 – 1726 – 2002 REVISI)


Dasar-dasar perencanaan bangunan tahan gempa

1. Bentuk Denah

a. Bentuk denah bangunan sebaiknya sederhana dan simetris

b. Penempatan dinding penyekat dan lubang pintu/jendela diusahakan sedapat mungkin simetris sumbu-sumbu denah bangunan

c. Bidang-bidang dinding sebaiknya membentuk kotak-kotak tertutup

d. Atap sedapat mungkin dibuat yang ringan



(Gb. 2 : Bentuk Denah Bangnan Tahan Gempa)
Lihat Bangunan Tahan Gempa II
(Sumber : Pelatihan Bangunan Tahan Gempa, Hotel Shafir Jogjakarta, Medio April 2006)

Indonesia Daerah Gempa


Indonesia memiliki wilayah yang rawan terhadap gempa. Dari gambar di atas kita tahu bagaimana rawannya bahaya gempa di wilayah Indonesia. Hampir seluruh wilayah Indonesia rawan gempa, kecuali Pulau Kalimantan.



Apa ada bangunan yang tahan terhadap bahaya gempa ?



Mengingat Indonesia memiliki wilayah yang rawan terhadap gempa sehingga perlu perencanaan khusus dalam pembangunan rumah dan gedung bertingkat, yang tahan terhadap bahaya gempa .


Bagaimana ?

FALSAFAH BANGUNAN TAHAN GEMPA
1. Bila terjadi gempa ringan, bangunan tidak mengalami kerusakan baik pada komponen non-struktural maupun komponen struktural .
2. Bila terjadi gempa sedang, bangunan boleh mengalami kerusakan pada komponen non-struktural tetapi komponen struktural tetap utuh.
3. Bila terjadi gempa besar, bangunan boleh mengalami kerusakan baik pada komponen non-struktural maupun komponen struktural, akan tetapi tersedia selang waktu bagi evakuasi penghuni bangunan tersebut untuk keluar sebelum bangunan runtuh sebagian atau seluruhnya


Caranya ?

1. Bentuk denah bangunan sebaiknya sederhana dan simetris
2. Penempatan dinding penyekat dan lubang pintu/jendela diusahakan sedapat mungkin simetris sumbu-sumbu denah bangunan
3. Bidang-bidang dinding sebaiknya membentuk kotak-kotak tertutup
4. Atap sedapat mungkin dibuat yang ringan.


Sudah cukupkah ?

Disamping upaya-upaya tersebut diatas, yang tidak kalah penting lagi ialah adanya simulasi, latihan cara-cara menyelamatkan diri dari bahaya gempa / mitigasi*. Hal ini wajib dipahami betul karena tidak ada seorang pun yang tahu kapan akan terjadi gempa.

*Mitigasi adalah upaya yang dilakukan untuk menekan timbulnya dampak bencana, baik secara fisik struktural melalui pembuatan bangunan-bangunan fisik, maupun non fisik-struktural melalui perundang-undangan dan pelatihan.

(Sumber : Pelatihan Bangunan Tahan Gempa, Hotel Shafir Jogjakarta, Medio April 2006)

Tugas Terstruktur


Buatlah resume dari judul materi blog berikut :

1. Aplikasi Semen I.

2. Aplikasi Semen II.

3. Kesalahan Aplikasi Semen

4. Bapak Beton Indonesia : Rosseno.

5. Scaffolding Bagian I.

6. Scaffolding Bagian II.

7. Acuan dan Perancah.

8. Bangunan Tahan Gempa I.

9. Bangunan Tahan Gempa II.

10. Bangunan Tahan Gempa III.

11. Zona Gempa Dunia dan Indonesia.

Materi Blog dapat dilihat di : http://www.buildingsmartsmk1blora/.

Resume dikumpulkan paling akhir Hari Kamis, 8 Oktober 2009 Pukul 14.00 di Meja Kerja Guru Ruang Jurusan Bangunan. Atau langsung ditulis di kolom komentar dibawah ini.

Senin, 28 September 2009

Acuan dan Perancah


ACUAN DAN PERANCAH
Program Keahlian : TKBB

Definisi :
Suatu konstruksi pembantu yang bersifat sementara yang merupakan cetakan / mal ( beserta pelengkapnya ) pada bagian samping dan bawah dari suatu konstruksi beton yang dikehendaki.

Syarat acuan dan perancah
1. Kuat
2. Kokoh / stabil
3. Tidak bocor
4. Mudah dibongkar
5. Ekonomis
6. Bersih



BAGIAN BAGIAN KONSTRUKSI



1. Bagian Acuan :
---a. Cetakan
---b. Gelagar balok
---c. Gelagar utk cetakan lantai/ pengaku cetakan balok.
---d. Papan penjepit cetakan.


2. Bagian Perancah :
---e. Tiang perancah
---f. Baji
---g. Landasan

3. Bahan yang digunakan
---a. Kayu
---b. Multipleks
---c. Paku
---d. Benang



4. Bahan Pelepas Cetakan
Berfungsi untuk mempermudah pelepasan atau mengurangi daya lekat antara cetakan dan beton.

Bahan- bahan yang digunakan
1.Minyak pelumas
2.Meni
3.Air
4.Kapur
5.Plastik



SAMBUNGAN

1. Sambungan untuk cetakan bawah ( papan dengan papan ), diletakkan ditengah tumpuan dan masing – masing sisi dipaku 2 buah paku



2. Sambungan untuk cetakan samping ( papan dengan papan ), papan dirangkai dengan menggunakan klam perangkai.
sambungan tsb tidak boleh segaris



3. Sambungan gelagar dengan tiang.
pada konstruksi sederhana, gelagarnya memakai papan dan sambungan dengan tiang cukup dipakukan saja.

Untuk k’si yg memikul beban berat, gelagarnya memakai balok 6/12 untuk gelagar utama, sedang pembaginya ukuran 5/7


4. Sambungan tiang dengan tiang
penempatan sambungan ini jangan diletakkan pada tengah dari tinggi tiang, krn daerah ini terjadi tekuk yg paling besar.


Dan peletakan sambungan ini untuk satu dan lainnya jangan segaris lurus.





PEMAKUAN

Pemakuan yang berhubungan langsung dengan cetakan berfungsi sebagai pegangan agar tidak bergeser, shg pemakuan hanya sedikit saja dan panjang paku tidak terlalu panjang.

Untuk pemakuan yang lain minimal dua buah paku dan dibuat tidak segaris




PEMBONGKARAN

1. Pembongkaran dilakukan bila umur beton telah mencapai cukup umur ( 28 hari )
2. Pada cetakan samping pembongkaran bisa dilakukan lebih dahulu dari pada cetakan bawah.




TYPE BEGISTING

1.Sistem konvensional / tradisional
a. Banyak bahan terbuang
b. Tenaga kerja banyak
c. Waktu kerja lama
d. Pemakaian berulang terbatas


2.Semi sistem
Untuk komponen pracetak


3.Sistem penuh / pabrikan
a. Biaya investasi tinggi
b. Umur pemakaian lama
c. Multiguna
d. Dilengkapi dengan gambar sistem


Pertimbangan Pemilihan Bekisting
1. Pertimbangan jenis pekerjaan :
---a. Rumit / khusus ……. Tradisional / semi sistem
---b. Modulair ……………. Semi sistem
---c. Tinggi / typikal ……. Sistem penuh
2. Penguasaan teknologi …… SDM
3. Ketersediaan peralatan
4. Ekonomis

(Sumber : fisuharoh.files.wordpress.com)

SOAL EVALUASI

1. Sebutkan definisi acuan dan perancah!

2. Sebutkan 5 syarat acuan dan perancah!

3. Sebutkan 4 bagian acuan!

4. Sebutkan 3 bagian perancah!

5. Sebutkan 4 bahan/alat yang digunakan dalam pembuatan acuan dan perancah!

6. Gambarkan acuan dan perancah lengkap dengan nama bagian-bagiannya!

7. Gambarkan sambungan cetakan bagian bawah (antara papan dengan papan)

8. Gambarkan sambungan cetakan bagian samping (antara papan dengan papan)

9. Gambarkan sambungan gelagar 6/12 dengan tiang 5/7 pada acuan dan perancah

10. Gambarkan sambungan tiang 5/7 dengan tiang 5/7 pada perancah.

Selamat Mengerjakan

TUGAS 3

1. Gambarlah rencana pembangunan Ruang TSP Lantai II, yang meliputi :

  • Footplate
  • Kolom 25/40
  • Sloof 15/20
  • Balok 25/40
  • Plate lantai tebal 12 cm

2. Hitunglah volume beton tersebut, yang meliputi (footplate; kolom, sloof, balok dan plate lantai).

3. Hitunglah kebutuhan begistingnya (acuan dan perancah)

4. Gunakan Analisa Pekerjaan dibawah ini untuk menghitung kebutuhan bahan beton (semen, pasir, kericak dan besi tulangan)

5. Gunakan Analisa Pekerjaan dibawah ini untuk menghitung kebutuhan bahan begisting (acuan dan perancah).


SNI G.6.1 1 M3 Pekerjaan beton tumbuk 1Pc : 3Ps : 5Kr (SNI-2002)
4,3600 zak PC
0,8700 m3 split
0,5200 m3 pasir beton
0,0800 mandor
0,0250 kepala tukang batu
0,2500 tukang batu
1,6500 pekerja


SNI G.6.13 1 M3 Membuat beton bertulang 1Pc : 2Ps : 3Kr (SNI-2002)
6,7200 zak PC
0,8100 m3 split
0,5400 m3 pasir beton
1,0000 mandor
0,0350 kepala tukang batu
0,3500 tukang batu
2,0000 pekerja

RSNI G.6.17 10 Kg Pembesian dengan besi polos atau besi ulir (SNI-2008)
10,5000 kg besi (polos/ulir)
0,1500 kg kawat beton
0,0040 mandor
0,0070 kepala tukang besi
0,0700 tukang besi
0,0700 pekerja


RSNI G.6.20 1 M2 Pasang bekisting untuk pondasi (SNI-2008)
0,0400 m3 kayu bekisting
0,3000 kg paku
0,1000 lt minyak bekisting
0,0260 mandor
0,0260 kepala tukang kayu
0,2600 tukang kayu
0,5200 pekerja


RSNI G.6.21 1 M2 Pasang bekisting untuk sloof (SNI-2008)
0,0450 m3 kayu bekisting
0,3000 kg paku
0,1000 lt minyak bekisting
0,0260 mandor
0,0260 kepala tukang kayu
0,2600 tukang kayu
0,5200 pekerja


RSNI G.6.22 1 M2 Pasang bekisting untuk kolom (SNI-2008)
0,0400 m3 kayu cetakan
0,4000 kg paku
0,2000 lt minyak bekisting
0,0150 m3 balok kayu kelas II
0,3500 lbr plywood tebal 9mm
2,0000 btg dolken kayu gelam
0,0330 mandor
0,0330 kepala tukang kayu
0,3300 tukang kayu
0,6600 pekerja


RSNI G.6.23 1 M2 Pasang bekisting untuk Balok (SNI-2008)
0,0400 m3 kayu cetakan
0,4000 kg paku
0,2000 lt minyak bekisting
0,0180 m3 balok kayu kelas II
0,3500 lbr plywood tebal 9mm
2,0000 btg dolken kayu gelam
0,0330 mandor
0,0330 kepala tukang kayu
0,3300 tukang kayu
0,6600 pekerja


RSNI G.6.24 1 M2 Pasang bekisting untuk Lantai (SNI-2008)
0,0400 m3 kayu cetakan
0,4000 kg paku
0,2000 lt minyak bekisting
0,0150 m3 balok kayu kelas II
0,3500 lbr plywood tebal 9mm
6,0000 btg dolken kayu gelam
0,0330 mandor
0,0330 kepala tukang kayu
0,3300 tukang kayu
0,6600 pekerja