Jumat, 26 Oktober 2012

RKS BAB II



BAB II
SYARAT-SYARAT TEKNIS

Pasal II.01
PEKERJAAN PERSIAPAN

Demi kelancaran dan keselamatan jalannya pelaksanaan pekerjaan Rehabilitasi Gedung Sekolah SD N 2 Mendenrejo, maka Pihak Komite Sekolah dengan dibantu Team Pelaksanan harus mengadakan persiapan-persiapan sebaik mungkin. Persiapan itu meliputi :

1.       PENGAMANAN PERABOTAN KELAS ATAU KANTOR
Semua perabot dan barang-barang lainnya yang berada dalam ruangan yang akan direhab harus dipindahkan, hal ini guna keselamatan dan keamanan perabot dan barang-barang tersebuit. Disamping itu juga untuk memperlancar dan mempermudah jalannya pelaksanaan pekerjaan.
Pelaksanaan pengamanan perabotan ini dapat dikerjakan bersama unsur masyarakat orang tua murid dan atau masyarakat sekitar.

2.   PEMBONGKARAN GENTENG
Karena reng dan usuk/kaso ada yang akan diganti, maka genteng harus diturunkan/dibongkar dulu secara hati-hati agar genteng tidak banyak yang rusak/pecah. Genteng yang masih baik dipisahkan dari genteng yang rusak, sehingga dapat digunakan lagi.

3.   PEMBONGKARAN RENG DAN USUK
Reng dan usuk yang rusak dilepas/diganti dengan hati-hati. Kemudian diganti dengan ukuran reng 3x4 cm dan usuk/kaso 5x7 cm (sesuai dengan ukuran reng dan usuk sebelumnya). Jarak usuk disamakan/disesuaikan dengan ukuran yang lama, dan jarak reng sesuai dengan ukuran gentengnya. Sehingga gentengnya dapat terpasang dengan sempurna garis alurnya dan tidak terjadi kebocoran atau tampias ketika hujan.

4.   PEMBONGKARAN PLAFOND
Plafond dan eternit yang rusak diganti. Pembongkaran/penggantian eternit yang pecah/rusak harus dilakukan dengan hati-hati sehingga tidak merusak eternit yang masih baik. Kerangka eternit atau plafond hanger yang rusak diganti dengan ukuran kayu yang berkualitas sama.
  
5.   PEMBONGKARAN DINDING TEMBOK
 Sebagian dinding lama yang terbuat dari batu bata pada ruang kelas yang akan direhab harus dibongkar karena telah mengalami keretakan yang parah akibat penurunan tembok. Pembongkaran tembok ini harus hati-hati agar tidak berakibat kerusakan pada bagian lainnya. Pembongkaran ini dimaksud untuk mempermudah pengerjaan perbaikan dan untuk mendapatkan mutu yang baik bagi bangunan secara keseluruhan.
Bongkaran batu bata dan material lama harus disingkirkan dari tempat pekerjaan dan ditempatkan ditempat yang aman sehingga tidak mengganggu pelaksanaan pekerjaan.

6.   PEMBONGKARAN LANTAI
Lantai lama yang akan diganti dengan keramik terlebih dahulu harus dibongkar atau dibuat kasar permukaannya dengan dibetel sehingga menurut pertimbangan teknis cukup kuat daya lekatnya dan tidak terlepas.

7.   PEKERJAAN PENGUKURAN DAN BOUWPLANK
      Pengukuran dan bouwplank (papan bangunan) dimaksud untuk menentukan bentuk dan ukuran dari bangunan atau komponen bangunan.
      Titik duga baouwplank (garis permukaan atas papan baouwplank) ditentukan sama dengan permukaan lantai yang baru, yaitu pada titik duga ±0.00.
      Selanjutnya ukuran-ukuran yang diperlukan, misalnya kedalaman galian tanah untuk pondasi, lebar galian, lebar bawah pondasi, lebar atas pondasi , tinggi sloof, ditentukan melalui bouwplank.


Pasal II.02
PEKERJAAN TANAH

1.   GALIAN TANAH PONDASI
      Pembuatan lobang galian tanah untuk pondasi dimaksudkan untuk meletakkan kontruksi pondasi pada tanah dasar yang baik, sehingga kedudukan pondasi mantap dan mampu menahan beban yang diterimanya.
      Lobang galian pondasi dibuat dengan ukuran : kedalaman 1,00 m lebar 1,00 m dengan bentuk penampang galian empat persegi panjang.
      Tanah bekas galian seluruhnya ditempatkan di bagian dalam dari denah bangunan dengan jarak dari bibir lobang minimal 1,00 m. Tanah bekas galian ini dapat digunakan untuk peninggian permukaan lantai dan pengurugan kembali lobang pondasi.
      Penggalian lobang pondasi ini dikerjakan dengan tenaga buruh, menggunakan alat penggali tradisional (cangkul, sekop, ganco, dll.)

2.   URUGAN PASIR DI BAWAH SALURAN DAN LANTAI
      Setelah penggalian lobang saluran selesai dibuat dengan ukuran yang sudah ditentukan, maka dasar galian diurug pasir setebal 5 - 10 cm. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki daya dukung tanah dasar serta untuk memberi kedudukan saluran/lantai yang lebih stabil. Pengurugan pasir ini harus dipadatkan dengan jalan menyiram air hingga urugan pasir jenuh air.
      Jenis pasir yang digunakan untuk pengurugan ini adalah pasir urug hitam yang berasal dari sungai/bengawan.

3.   URUGAN TANAH KEMBALI.
      Lobang galian saluran yang tidak terisi oleh pasangan saluran diurug kembali dengan tanah urug yang baik. Pengurugan dilakukan selapis demi selapis sambil dipadatkan dengan baik. Tebal setiap lapisan ±15-20 cm dipadatkan dengan ditimbris ringan. Hal ini dimaksud supaya penurunan permukaan tanah urugan sekecil mungkin.

Pasal II.03
PEKERJAAN BETON

1.      PEKERJAAN BETON MELIPUTI :
a.      Pekerjaan Lantai kerja/Rabat Beton
Pekerjaan lantai kerja dilakukan pada lapis bawah bangunan sebelum pemasangan lantai keramik, kaki kusen, dan selasar samping dan belakang bangunan yang akan dikerjakan sesuai dengan gambar rencana kerja. Ukuran campuran dari lantai kerja/rabat adalah semen : kericak : pasir (1 : 3 : 5 ). Dengan ketebalan minimal 5 cm atau lebih jika dikehendaki oleh pihak direksi.
b.      Pekerjaan Beton K.200
Pekerjaan beton K.200 meliputi pekerjaan  kolom, ring balk

2.      BAHAN
Beton harus terdiri atas campuran semen, pasir, dan kerikil, air serta bahan tambahan (admixture) bila diperlukan sesuai kebutuhan.
a.      SEMEN
Semen harus  menurut standard. Spesikasi untuk Portland Cement (PC) type II ASTM C 150 atau PC type I ASTM C 150 dari hasil produksi pabrik  Bebas dari gumpalan bila dipakai pada campuran beton.

b.      AGEGRAT BETON
Semua Agregat  harus bebas dari tanah, tanah liat, kapur, kapur perekat, hama, batu lunak liat berlempangan atau menjadi busuk, bahan-bahan nabati dan organis dan kotoran-kotoran lainnya.

Kerikil/Batu Pecah (Agregat Kasar)
Kerikil harus berkualitas baik dengan diameter minimum 5 mm dan bergradasi baik dari 5 mm ke ukuran yang lebih besar yang dibutuhkan. Kerikil harus bersih, keras, padat, tahan lama ( tak mudah lapuk ), tidak tercampur batuan besar gesar dan bebas dari lempung, lanau, akar, cabang-cabang pohon, material organik, alkali dan kotoran-kotoran lain yang menurunkan kekuatan beton.

Pasir ( Agregat Halus )
Pasir harus berkualitas baik dengan diameter maksimum 5mm. pasir harus bersih, keras, padat, tahan lama ( tidak mudah lapuk ) dan tidak tercampur batu pecah dan harus bebas dari banyak kotoran lempung, lanau dan bahan kimia lain yang dapat mempengaruhi kekuatan beton. Pasir dapat dihasilkan dari bahan asli ataupun dari hasil pemecahan batu dengan melalui pemeriksaan pencucian air.

Penyimpanan Agregat
Sarana-sarana perlu dibuat di lapangan untuk penyimpanan tersendiri batuan-batuan halus dan kasar, maupun untuk setiap ukuran bantuan-bantuan kasar dengan cara sedemikian hingga mencegah kontaminasi beton oleh bahan-bahan asing dan menghindari perusakan dan kerusakan-kerusakan yang berlebihan

c.       AIR PENCAMPUR
Air yang digunakan untuk pencampuran beton dan mortar hendaknya bersih dan bebas dari kotoran, tidak mengandung endapan lumpur, zat-zat organik, alkali, garam atau pencemaran lainnya yang tidak diinginkan.

d.     BAHAN TAMBAHAN (Admixture)
Pemakaian  bahan tambahan campuran beton untuk memperbaiki mutu dan mempermudah pekerjaan beton dan mortar. Bahan tambahan lain untuk perbaikan pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan

3.      CAMPURAN BETON
Beton harus terbuat dari semen, pasir kerikil, air dan bila diperlukan bahan tambahan yang disetujui, semua dicampur sampai merata sehingga diperoleh hasil yang baik

4.      PENGECORAN
a.      Semua peralatan pengecoran beton dan cara kerjanya harus mendapat persetujuan pengawas lapangan semua bekesting, penulangan, dan pemasangan sambungan
b.      Cara Pengecoran
1.      Setelah permukaan disiapkan dengan baik, permukaan horizontal pada siar pelaksanaan (construction joint) pada beton harus dilapisi dengan mortar setebal 1 cm dengan campuran seperti beton yang dicor tanpa kerikil.
2.      Pembatalan pengecoran beton pada beberapa kejadian sebagai berikut :
-          Bila pelaksanaan pencampuran belum mulai dalam 30 menit setelah semen dituangkan pada pasir dan kerikil.
-          Bila lebih dari 30 menit berlalu antara penuangan dari mixer dan pengecoran beton tanpa menggerak-gerakkan mixer.
-          Bila lebih dari 1,5 jam berlalu antara penuangan semen pada pasir dengan kerikil dan pengecoran beton.
-          Bila keenceran beton (slump) berkurang 2,5 cm atau dianggap oleh Direksi tidak benar selama waktu setelah penuangan dari mixer dan sebelum pengecoran beton.
-          Beton harus disimpan dengan cara sedemikian rupa agar tidak terjadi penguraian dan dicor dengan tidak memukul keras pada penulangan, sambungan atau bekisting yang dibuat untuk konstruksi.
3.      Beton tidak diijinkan dijatuhkan bebas lebih dari 1,5 m dan tinggi lebih dari 1,5 m harus diturunkan melalui saluran miring

c.       Perawatan dan Perbaikan Beton
1.      Perawatan
Semua beton yang dicor harus dirawat dengan cara yang disetujui oleh Direksi. Beton yang tidak boleh kehilangan kelembaban dalam 14 hari pertama setelah pengecoran dan permukaannya harus selalu dalam keadaan basah. Selama masa perawatan, beton harus dilindungi dari hujan dan aliran air.
.
2.      Perbaikan Beton
Beton yang rusak akibat berbagai sebab seperti beton tidak rata, patah, dan beton yang disebabkan oleh tekanan permukaan yang berlebihan, harus dibongkar dan diganti agar didapatkan permukaan yang rata dan lurus. Semua bahan yang dipakai pada perbaikan beton harus menurut spesifikasi yang dibutuhkan.


5.      BEKISTING DAN PENYELESAIAN AKHIR
a.      Umum
1.      Bekisting harus terbuat dari logam, kayu, lapisan plywood atau papan rata dalam kondisi baik yang mempunyai kekuatan cukup dan kaku untuk memikul beton dan menahan lenturan dari kondisi rata, dan harus dilindungi permukaannya menurut kebutuhan pelaksanaan. Permukaan bekisting yang berhubungan dengan beton harus bersih, kaku dan cukup kedap untuk menahan kehilangan mortar.
2.      Bahan pelapis bekisting kayu berkualitas baik dan harus diperbaiki atau dicat yang tidak mengandung bahan kimia yang dapat merusakkan permukaan beton.

b.      Pemasangan dan Persiapan
1.      Bekisting harus dipasang pada pertemuan dari permukaan beton yang mendatar, tegak dan pertemuan antara kedua permukaan harus rata.
2.      Sebelum pengecoran beton, semua bekisting harus kaku, kedap dan sesuai pada tempatnya serta harus dibersihkan dari semua kayu potongan, serbuk gergaji, gumpalan mortar kering, benda asing dan genangan air harus dibuang dari antara bekisting. Bekisting harus berpermukaan baik dengan dilapisi minyak bekisting (form oil) . Minyak harus diberikan sebelum penulangan diletakkan.
3.      Bekisting yang dipakai lebih dari sekali harus dipelihara dan diperbaiki kondisinya serta harus dibersihkan sebelum dipakai kembali.


                                             Pasal II.04
PEKERJAAN PENULANGAN

I.    SYARAT –SYARAT PEKERJAAN PENULANGAN
1.      Semua penulangan harus diprofilkan (deformed), produksi dalam negeri sesuai dengan standar Indonesia atau sejenis dengan U24
2.      Kecuali tertera pada gambar , bengkokan, pengelasan selimut beton dan detail lainnya dari penulangan harus menurut pada PBI-71.

II.       PENEMPATAN TULANGAN
1.      Tulangan harus ditempatkan seperti terlihat pada gambar
2.      Penempatan tulangan harus rata dan sesuai pada standar tulangan. Penulangan akan diperiksa untuk menyesuaikan dengan kebutuhan ukuran, bentuk, panjang, spasi, letak dan jumlah yang dipasang.
3.      Sebelum penulangan disambungkan pada beton, permukaan tulangan dan permukaan beberapa penyangga tulangan harus bersih dari karat berat, kotoran, lemak dll
4.      Penulangan harus ditempatkan dengan teliti dan pada posisi yang tepat dengan menggunakan kawat tidak kurang dari diameter 0,9 mm pada pertemuan tulangan dan diikat pada penyangga dan penjaga jarak (spacer) agar tidak berubah selama pengecoran beton.
Tulangan harus ditempatkan dalam toleransi berikut:
-          Selimut beton, bervariasi sebagai berikut :
-          Tulangan 6 mm dengan selimut beton 50 mm atau kurang
-          Tulangan 9 mm dengan selimut beton 51 - 60 mm
-          Tulangan 12 mm dengan selimut beton lebih dari 60 mm variasi dari syarat spasi tulangan : 25mm


Pasal II.05
PEKERJAAN PASANGAN DAN LANTAI

1.   PASANGAN TEMBOK  BATU BATA
      Pasangan tembok batu bata dibuat setinggi gambar setebal ½ batu dengan menggunakan perekat campuran 1 bagian PC + 3 bagian kapur pasang + 8 bagian pasir pasang + air secukupnya. Batu bata yang digunakan harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a.      Berwarna merah bata secara merata.
b.      Semua sisinya tajam.
c.       Tidak bengkok (ngulet).
d.     Bata pecahan minimal ½ panjang bata.
e.      Ukuran memnhi standar, yaitu panjang 2 x lebar + 1 cm.
f.        Ketebalan batu-bata 5 – 6 cm.
Sebelum batu bata dipasang terlebih dahulu direndam dalam air hingga cukup jenuh. Pemasangan pasangan batu bata dalam 1 (satu) hari maksimal setinggi 1 meter. Pasangan tembok batu bata diatas sloof diawali dengan pasangan batu bata menggunakan adukan semen raam 1 bagian PC + 3 bagian Pasir pasang + air secukupnya setinggi 4 lapis.

4.   PEMASANGAN LANTAI KERAMIK
      Pemasangan lantai keramik (rehabilitasi) meliputi seluruh ruang kelas yang direhabilitasi ditambah dengan selasarnya sesuai dengan ukuran gambardenah. Serta tambal sulam emperan/selasar dengan tingkat kerusakan ± 25%.
      Pemasangan lantai keramik langsung diatas tegel lama. Untuk memperoleh ikatan yang kuat antara permukaan lantai lama dengan pasangan keramik yang baru, maka permukaan lantai yang lama harus dibuat kasar dahulu. Pengerjaan mengkasari permukaan lantai lama dapat dikerjakan dengan cara dibetel sedalam 1 cm. Setelah semua permukaan lantai lama dibuat kasar, selanjutnya diplester rata setebal 1-1,5 cm dengan adukan campuran 1 bagian PC + 3 bagian pasir pasang diayak dalam keadaan campuran kering.
      Perekat untuk memasang lembaran keramik dengan adonan pasta semen + air dengan ketebalan 5 mm.
      Keramik lantai menggunakan ukuran 30 x 30 cm warna putih polos dengan kualitas K-1, Merk Mulia atau Accura. Pemasangan keramik dimulai dari tengah-tengah ruangan (as ruangan) menuju ketepi ruangan, sehingga sisa lajur pasangan ditempatkan ditepi sekeliling ruangan.
      Siar pasangan (celah antara lembar keramik satu dengan yang lain) dibuat selebar 2 @ 3 mm dan diisi dengan adonan semen putih.





Pasal II.06
PEKERJAAN PLESTERAN

1.   PLESTERAN BATU BATA
      Plesteran batu bata dikerjakan setelah pemasangan batu bata sudah cukup kering. Plesteran  dibuat ketebalan antara 1-1,5 cm dengan adukan campuran 1 bagian PC + 3 bagian kapur pasang + 8 bagian pasir pasang diayak dalam keadaan campuran kering. Pada bagian puncak pasangan setebal ±10 cm menggunakan perekat campuran 1 bagian PC + 3  bagian pasir. Kulit luar dari plesteran dilapisi adonan semen dan air (acian) untuk memperoleh permukaan tembok yang halus dan licin.

2.   PLESTERAN TAMBAL SULAM BATU BATA YANG RETAK
      Plesteran tembok batu bata lama yang rusak sebelum ditambal harus dikasari/dibetel sedalam plesteran lama sampai dengan maksimum sepertiga tebal bata. Setelah disiram air secukupnya kemudian dilapisi pasta semen agar ikatan plesteran yang baru dapat mengikat dengan baik pada tembok / plesteran lama. Plesteran  dibuat ketebalan antara 1-1,5 cm dengan adukan campuran 1 bagian PC + 3 bagian kapur pasang + 8 bagian pasir pasang diayak dalam keadaan campuran kering. Kulit luar dari plesteran dilapisi adonan semen dan air (acian) untuk memperoleh permukaan tembok yang halus dan licin.



Pasal II.07
PEKERJAAN ATAP

1.   PEMASANGAN GENTENG
      Penutup atap genteng dapat dipasang setelah seluruh reng terpasang dengan baik. Genteng yang digunakan dari jenis Plenthong Merk Super Mantili dengan persyaratan sebagai berikut :
·         Kualitas 1
·         Seluruh permukaan genteng berwarna merah merata.
·         Genteng tidak ada yang cacat bentuk.
·         Tidak ada retak/retak rambut.
·         Tidak rembes air.
·         Bakarannya cukup tua, bila dipukul berbunyi nyaring.
Dalam pemasangan genteng melalui prosedur sebagai berikut :
·         Buat terlebih dahulu pasangan kepala genteng pada baris ujung atas dan hitung jumlah genteng yang terdapat dalam baris ini.
·         Buat pula pasangan kepala genteng pada baris ujung bawah, kira-kira 3 genteng ke atas dari reng yang paling bawah. Dan jumlah genteng pada baris ini harus sama persis dengan jumlah genteng pada pasangan kepala genteng bagian baris atas.
·         Buat kepala pasangan genteng pada bagian tepi sebelah kiri kearah puncak kanan.
·         Kemudian pasang genteng berikutnya mengacu posisi genteng kepala yang telah terpasang sehingga seluruh terpasang dengan rapi dan benar.

2.   PEMASANGAN GENTENG KERPUS
      Genteng kerpus/bubungan yang dugunakan ialah genteng kerpus bentuk segitiga sama kaki dengan kualitas 1 sesuai syarat genteng pada  butir diatas. Pemasangan genteng kerpus ditumpu pada papan bubungan/kerpus/jenggeran yang diisi dengan adukan 1 bagian PC + 3 bagian kapur pasang + 8 bagian pasir pasang dan pecahan genteng/bata secukupnya. Pada bagian luar pasangan ini diaci dengan pasta semen sehingga rapi dan tidak rembes air.

3. PEMASANGAN PLAFOND ETERNIT
      Plafond dari bahan eternit kualita baik yang dipasang pada balok penggantung plafond dari kayu jati ukuran 6x8 cm atau 5x7 cm yang dikerjakan secara rapih dan penyusunannya simetris. Nat eternit ditutup dengan lis kayu jati tebal 1 cm dengan lebar 4 cm dipasang dengan paku reng pada balok penggantung. Finishing eternit dengan cat tembok warna putih dan lis kayu dicat kayu warna coklat.

Pasal II.08
PEKERJAAN KAYU

1.   PEMBUATAN KUSEN JENDELA
       Kusen jendela dibuat dari kayu jati dengan bentuk dan ukuran sesuai dengan gambar kerja. Dilengkapi dengan sponengan untuk daun jendela dan atau untuk kaca mati/kawat harmonika. Pemasangan kusen menempel pada tiang struktur dari kayu dengan menggunakan penguat paku. Penempatan jendela sesuai dengan gambar denah.


2.   PEMBUATAN DAUN JENDELA
       Raam daun jendela dibuat dari kayu jati dengan ukuran seperti pada gambar kerja. Ukuran kayu raam tebal 3 cm dan lebar 8 cm, dengan konstruksi sambungan pen dan lubang. Dengan lubang pada rimbat tegaknya diberi spat pen sepertiga tebal kayu dan dibuat tersembunyi (tidak tembus) tetapi kedalamannya mencapai 5 atau 6 cm dari bibir lubang.  Sambungan pen dan lubang diperkuat dengan nagel dan harus menggunakan lem putih pada saat pemasangan negel. Untuk pemasangan kaca pada raam jendela maka raam harus dibuat sponengan sedalam 1 cm dan diberi lis kaca dibuat dari kayu yang menonjol/timbul 5 mm dari permukaan kayu raam.

3.    PEMASANGAN KACA JENDELA
       Semua lubang jendela yang menggunakan daun jendela dibuat daun jendela kaca. Kaca dipakai jenis kaca bening tebal 3 mm yang dipasang pada sopengan kaca dan ditutup dengan lis kayu secara rapi dengan menggunakan verstek dan dikuatkan dengan paku rujak.

4.    PEMASANGAN LISPLANK
       Lisplank dipasang pada ujung kayu usuk dengan posisi vertikal kearah lebar papan. Papan ini dipasang dengan menggunakan paku reng menempel dengan rapi pada kepala usuk. Pemasangannya menonjol sebagian atasnya sebesar 3 cm diatas bidang permukaan usuk sejajar dengan bidang reng bagian atas.
       Ukuran lisplank tebal 2 cm dan lebar 20 cm. Penyambungan dalam arah memanjang menggunakan konstruksi sambungan ekor burung diperkuat dengan paku dan lem putih. Bahan lisplank dari papan kayu jati.


Pasal II.09
PEKERJAAN FINISHING

1.    PENGECATAN KAYU
      Yang dimaksud dengan pengecatan kayu adalah mengecat bidang permukaan kayu yang sudah dipersiapkan menggunakan cat minyak (cat sintetis). Bagian-bagian yang harus dicat minyak meliputi :
Ø      Lisjtplank
Ø      Kosen pintu dan jendela
Ø      Daun pintu
Ø      Daun jendela
Ø      Tiang teras
Ø      Konsol
Sebelum permukaan kayu dicat (permukaan baru) terlebih dahulu dicat meni dan didempul bila terdapat lubang dan diplamuur serta dihaluskan dengan amplas.
Cat untuk kosen pintu, kosen jendela, lisjtplank, konsol berwarna tertentu sesuai dengan warna cat lama. Demikian pula untuk daun pintu dan daun jendela.
Cat yang digunakan kualitasnya baik dengan Merk “Picolux “ atau “Glotex”. Pengecatan permukaan kayu dengan kuas berbulu halus. Bila cat terlalu kental agar diencerkan dengan minyak cat / thiner berkualitas baik, dengan maksimum pengenceran 20 % dari volume cat.


2.   PENGECATAN TEMBOK
Semua bidang permukaan tembok baru sebelum dicat harus dilapisi plamuur tembok dan diamplas untuk memperoleh permukaan bidang yang halus dan licin. Pengecatan dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali lapisan menggunakan kuas roll.
Warna cat sesuai warna cat yang lama  dari Merk “Decolith”.

3.   PENGECATAN PLAFOND
Semua plafond ruang kelas dicat warna putih dengan menggunakan cat tembok Merk “Decolith”. Pengecatan dengan kwas roll sedikitnya 3 kali lapisan, sehingga kelihatan putih bersih dan merata.

4.   PENGECATAN TIANG KONSOL BETON
 Seluruh permukaan tiang konsol beton yang akan dicat dibersihkan dan diamplas terlebih dahulu, kemudian diplamuur baru dicat dengan cat tembok Merk “Decolith”. Pengecatan dengan kwas roll sedikitnya 3 kali lapisan, sehingga kelihatan putih bersih dan merata.


Pasal II.10
PEKERJAAN PENGGANTUNG DAN PENGUNCI
       Yang dimaksud dengan pekerjaan penggantung dan pengunci adalah pekerjaan pemasangan engsel, kunci, grendel, hak angin pada daun pintu dan daun jendela.
     
      1.   PEMASANGAN ENGSEL
Pemasangan engsel pada daun  jendela ditempatkan pada sisi atas daun jendela dengan menggunakan 2 buah engsel. Dengan demikian arah membuka daun jendela kearah luar vertikal. Pemasangan engsel daun pintu pada sisi samping daun pintu sejumlah 3 buah engsel. Arah membuka daun pintu ialah kearah luar kanan. Engsel yang digunakan ialah jenis kupu-kupu ukuran 3” merk Modern.
2.   PEMASANGAN KUNCI PINTU
 Pemasangan kunci pada daun pintu ruang kelas masing-masing 1 set. Kunci yang digunakan adalah kunci dengan 2 level berkualitas baik merk Elite atau yang sekualitas.

3.    PEMASANGAN GRENDEL JENDELA
      Setiap daun jendela harus dipasangi grendel yang kuat, demi terkjaminnya keamananan ruang kelas. Grendel dipasang pada bagian bawah daun jendela ditengah-tengah arah lebarnya dengan memakai paku sekrup yang tersedia. Merk Grendel Elite atau yang sekualitas. Warna tembaga.

4.    PEMASANGAN HAK ANGIN
 Hak angin dipasang disetiap daun pintu dan daun jendela. Pemasangan pada daun pintu cukup 1 buah setiap pintu dengan ukuran hak angin 12”. Sedangkan untuk daun jendela dipasang hak angin 2 buah tiap daun jendela. Pemasangan hak angin ditempatkan pada kedua rimbat tegak dengan jarak yang disesuaikan lebar bukaan jendela yang diperlukan.





                                                                                    Blora, Juli 2011

                                                                                    TIM PERENCANA SMK I BLORA
                                                                                    BIDANG KEAHLIAN BANGUNAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar